Airul Khoirul Anwar atau biasa disapa Airul adalah seseorang praktisi SEO Indonesia sejak tahun 2011.

https://airul.blog


Ikuti saya di:        

Panduan Belajar SEO untuk Pemula dari A sampai Z (2020)

Memiliki skill SEO itu membuka banyak peluang untuk mendapatkan uang dari internet. Anda bisa mengembangkan bisnis yang sudah ada, membangun bisnis baru terkait SEO (misalnya saja jasa SEO) atau bisa juga memanfaatkan ilmu SEO tersebut untuk membangun karir sebagai SEO Specialist hingga SEO Manager di sebuah perusahaan.

Yang seringkali menjadi pertanyaan: Apakah belajar SEO itu mudah?

Sayangnya, saya harus mengatakan TIDAK. Ya, itu sebuah realita yang harus Anda terima. SEO itu rumit.

Saya pribadi membutuhkan waktu setidaknya 1 tahun hanya untuk memahami basic SEO. Iya, baru sebatas basic. Bahkan sampai hari ini saya masih terus belajar dan memantau update algoritma Google.

Mengapa SEO itu rumit?

Jawabannya karena ada banyak ranking Factors yang harus Anda pelajari. Setidaknya saat ini terdapat kurang lebih sekitar 200 ranking factors yang harus Anda hafal di luar kepala.

Yang menjadikannya tambah rumit, 200 ranking factors harus tepat penggunaannya karena belum tentu semua akan cocok dengan goals SEO Anda. Anda harus cerdas dalam memilah, memilih dan mengombinasikan hal apa saja yang sekiranya cocok untuk proyek SEO Anda.

Belum lagi, Anda harus juga mempelajari ‘halal-haram’ dalam dunia SEO. Jika tidak, maka website Anda bisa saja website Anda naik ranking-nya di bulan ini, namun terkena penalti di bulan berikutnya. Sebuah hal yang tentunya tidak ingin Anda alami.

Tidak cukup sampai disitu, Anda juga dituntut aktif mengikuti perkembangan mesin pencari (Google), baik perkembangan algoritma maupun perkembangan fitur baru.

Bagaimana? Sudah ada bayangan terkait betapa rumitnya SEO?

Jika jawabannya sudah dan Anda masih bersikeras ingin belajar, saya akan bagikan pengalaman saya di dunia SEO sejak tahun 2011 hingga sekarang.

Mari kita mulai!

Panduan Belajar SEO untuk Pemula (dari A sampai Z)

Kenali Cara Kerja Mesin Pencari

Hal pertama yang harus Anda pahami sebelum belajar SEO lebih mendalam adalah mengenali bagaimana cara kerja mesin pencari (Google). Singkatnya mesin pencari memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai berikut:

  • Crawling
  • Indexing
  • Ranking

Mari kita bahas lebih mendalam.

1. Crawling

Crawling adalah kondisi dimana bot Google sedang jalan-jalan ke sebuah URL/website. Pada kondisi ini, bot Google akan melakukan scanning sebuah laman website kemudian membuat keputusan apakah akan dilanjutkan ke proses selanjutnya yakni indexing.

2. Indexing

Indexing adalah proses yang dilakukan setelah proses crawling berlangsung.

Konten yang di dapat saat proses crawling nantinya akan disimpan di database Google untuk kemudian di cek kira-kira apa target keyword yang sesuai dengan laman web tersebut.

3. Ranking

Setelah proses indexing berlangsung, Google akan mengumpulkan data dan membandingkan ‘kekuatan’ website Anda dengan website lain yang memiliki target keyword yang sama.

Jika Anda masih kurang paham dengan penjelasan saya di atas, silakan tonton video dari Google berikut ini.

Kenali Faktor Penentu Ranking

Jika mengacu pada apa yang sudah saya sampaikan sebelumnya (pada bagian cara kerja mesin pencari), hal paling rumit terletak pada proses ranking. Maka ini yang akan menjadi pembahasan selanjutnya.

Pada proses ranking ini, algoritma Google akan bekerja mengukur ‘kekuatan’ sebuah website hingga pada akhirnya memutuskan akan menempatkan pada halaman dan urutan ke berapa website tersebut di hasil pencarian. Dengan kata lain, ada parameter yang harus terpenuhi agar sebuah website dianggap cukup kuat dan layak berada di halaman pertama hasil pencarian.

Saya paham apa yang ada di pikiran Anda sekarang. Sepertinya Anda sedang berfikir “apa sih parameter yang harus terpenuhi?”.

Oke, mari kita lanjut pembahasannya.

Secara garis besar sebenarnya SEO itu sebenarnya simple. Anda hanya perlu paham mengenai 2 hal mendasar, yakni:

  • SEO On-page
  • SEO Off-page

Yang menjadi persoalan SEO On-page dan Off-page itu hanya istilah dasar yang masih memiliki cabang yang sangat beragam.

Jika di analogikan, belajar SEO On-page dan Off-page itu ibarat belajar Matematika. Ilmu Matematika memiliki cabang ilmu yang sangat beragam, sebut saja beberapa diantaranya Aritmatika, Geometri, Aljabar, Kalkulus dan lain sebagainya. Dan untuk bisa dianggap ahli Matematika, Anda harus menguasai semua cabang ilmu Matematika.

Pun dengan SEO On-page dan Off-page. Itulah mengapa sedari awal saya mengatakan bahwa SEO itu rumit. Tapi Anda tidak perlu khawatir, karena saya akan membahas ini lebih lanjut.

Belajar SEO On-page

Secara garis besar SEO On-page adalah proses optimasi yang dilakukan untuk membuat struktur website sesuai dengan apa yang di mau oleh Google. Dengan kata lain urusan SEO On-page ini erat kaitannya dengan memahami output HTML (Hypertext Markup Language) dari sebuah laman website.

Jadi bagi Anda yang paham mengenai bahasa pemrograman dasar (minimal HTML), Anda akan sangat mudah dalam memahami konsep dasar SEO On-page ini. Namun Anda yang awam dengan dunia pemrograman tidak perlu khawatir, Anda tetap bisa belajar dan melakukan SEO dengan memanfaatkan CMS WordPress yang memiliki banyak pilihan plugin SEO gratis.

Meskipun begitu saya tetap menyaranakan Anda untuk mengenali dunia pemrograman basic, karena nantinya ini akan sangat berguna untuk Anda ketika mulai masuk pada tahap SEO medium hingga expert.

Oke, mari kita lanjut pembahasan apa saja hal-hal mendasar yang harus dipelajari soal SEO On-page ini.

1. Meta Title

Meta Title adalah judul yang nantinya ditampilkan di hasil pencarian.

Meta Title

Agar memenuhi syarat SEO Friendly, maka meta title harus mengandung kata yang sesuai dengan target keyword yang nantinya akan Anda bidik. Sebagai contoh di blog pribadi saya Airul.Blog yang tertera pada gambar diatas.

  • Target Keyword: Blueprint SEO
  • Meta Title: Blueprint SEO: Cara Melakukan SEO dari A sampai Z

Selain meta title yang harus mengandung target keyword, perlu diperhatikan juga beberapa hal:

  • Panjang meta title sebaiknya maksimal 60 karakter
  • Isi meta title dengan kalimat yang menarik untuk menaikkan CTR

2. Meta Description

Meta description ini juga fungsinya tidak jauh berbeda dengan meta title. Nantinya meta description akan ditampilkan persis di bawah meta title (namun pada beberapa kondisi Google akan menampilkan deskripsi dari potongan konten jika dianggap lebih relevan dengan apa yang di cari oleh user).

Cara melakukan optimasi pada meta description juga sama dengan meta title. Anda sebaiknya membuat meta description yang mengandung target keyword.

Hal lain yang yang perlu Anda perhatikan terkait meta description ini adalah:

  • Panjang meta description sebaiknya maksimal 160 karakter
  • Isi meta description dengan kalimat menarik untuk menaikkan CTR

Selain kalimat menarik, meta description juga dapat Anda tweak (untuk tujuan menaikkan CTR) dengan cara menambahkan emoji seperti contoh di bawah ini.

Screenshot 515

3. Canonical Link

Sejujurnya saya tidak dapat menemukan kalimat yang sangat mudah di cerna untuk menjelaskan canonical link ini. Namun secara garis besar canonical link memiliki fungsi untuk mencegah terjadinya duplicate content.

Salah satu contoh misalnya:

  • piwiq.com/belajar-seo
  • piwiq.com/belajar-seo?gclid=ABCD

Secara gambaran, 2 laman website di atas sebenarnya sama, yang membedakan hanya ada imbuhan dibelakangnya.

Pada kondisi semacam ini, Anda harus mengarahkan canonical ke URL asli agar tidak terjadi duplicate content index di Google.

4. Alt Image

Secara kasat mata alt image ini tidak akan kelihatan oleh manusia, karena memang tujuan dari penggunaan tag ini lebih ditujukan untuk bot Google.

Tidak berbeda jauh dengan meta title dan meta description, alt image ini juga sebaiknya di isi sesuai dengan target keyword yang di bidik.

5. Internal Link

Internal link adalah sebuah tautan yang mengarah dari satu laman ke laman yang lain dalam satu website. Selain berguna untuk mempermudah proses crawling dan indexing, internal link juga dapat membantu dalam hal menaikkan ranking.

Internal link sendiri sebaiknya dilakukan pada konten yang saling terkait, misalnya saja di Piwiq ini ada artikel “Cara Install Windows 10” yang melakukan internal link ke artikel “Cara Aktivasi Windows 10“.

Namun di sisi lain tidak ada larangan melakukan internal link menuju artikel yang tidak terkait, namun secara power umumnya akan berbeda.

6. Data Terstruktur

Di era SEO modern seperti saat ini, data terstruktur memiliki peran yang cukup penting dalam menaikkan ranking sebuah web. Google sendiri saat telah mendukung banyak jenis data terstruktur yang bisa Anda pelajari di website resmi Google.

Umumnya, manfaat penggunaan data terstruktur adalah untuk keperluan menampilkan rich snippets di hasil pencarian. Sebagai contoh misalnya rating bintang pada halaman website bertipe produk:

Screenshot 516

7. Gunakan HTTPS

Https
Sumber: https://developers.google.com

HTTPS (hypertext transfer protocol secure) adalah protokol komunikasi dalam jaringan internet yang paling valid dan yang paling aman hingga saat ini. Google sendiri sudah mengonfirmasi bahwa HTTPS saat ini menjadi salah satu ranking factors.

Jadi alangkah baiknya Anda mulai mempertimbangkan penggunaan HTTPS di website Anda mulai dari sekarang.

8. Mobile Friendly

Mobile
https://developers.google.com/

Per tanggal 1 Juli 2019, Google meluncurkan algoritma Mobile-first. Algoritma ini sendiri fokus pada konten versi seluler untuk proses pengindeksan dan pemberian peringkat.

Dengan begitu sebuah website harus memiliki tampilan versi mobile yang baik agar bisa bersaing di halaman pertama Google.

Anda bisa melakukan audit website Anda apakah sudah memenuhi syarat mobile friendly melalui: https://search.google.com/test/mobile-friendly.

9. Pagespeed

Screenshot 521

Pada Juli 2018 yang lalu, Google resmi mengumumkan bahwa pagespeed atau kecepatan muat suatu laman website menjadi salah satu ranking factors untuk mobile. Dan seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Google juga menggunakan algoritma mobile-first untuk proses indexing dan ranking.

Itulah mengapa pagespeed menjadi salah satu hal yang perlu Anda perhatikan ketika melakukan optimasi sebuah website.

Untuk melakukan audit kecepatan website, Anda bisa menggunakan tools: https://developers.google.com/speed/pagespeed/insights/

Belajar Menulis Artikel SEO

Menulis artikel (yang SEO Friendly) pada dasarnya masuk dalam kategori SEO on-page. Namun di sini saya mencoba memisahkan pembahasan agar bisa membahasnya secara lebih detil.

Bagi saya pribadi, artikel SEO Friendly tidak begitu penting, hal ini dikarenakan Human Friendly lebih penting ketimbang SEO Friendly di era SEO modern seperti sekarang.

Namun meskipun begitu bukan berarti kita harus 100% mengabaikan beberapa pedoman menulis secara SEO. Dan beberapa hal yang menurut saya masih bisa digunakan untuk acuan menulis adalah:

  • Tulis artikel sesuai dengan search intent
  • Tulis artikel yang unik (bukan copy paste)
  • Tulis target Keyword di bagian awal artikel: Tidak harus di awal kalimat, bahkan tidak harus di paragraf pertama. Setidaknya letakkan keyword di sekitar 20% awal artikel
  • Gunakan keyword turunan untuk menjangkau lebih banyak keyword target
  • Jangan terlalu sering mengulang keyword (jika memang tidak diperlukan)

Belajar Konten Manajemen

Tahap selanjutnya yang harus Anda pelajari adalah konten manajemen. Konten manajemen ini sendiri meliputi banyak hal, tidak hanya soal menulis artikel yang baik di mata Google, tapi juga menyajikan dengan estetika yang baik untuk pembaca.

Perlu di catat, sebelum lebih jauh. Disini saya menggunakan kata konten dibandingkan dengan artikel. Hal ini karena konten memiliki cakupan yang lebih luas. Artikel adalah bagian dari konten, tapi konten bukan hanya artikel. Gambar atau video juga merupakan konten.

Lantas apa saja yang menjadi poin penting dalam hal konten manajemen ini?

Sebenarnya Anda bisa mempelajarinya langsung dengan menganalisa artikel ini sambil membaca. Secara garis besar, saya melakukan beberapa hal antara lain:

  • Buat konten yang memiliki added value dibandingkan kompetitor
  • Gunakan heading tag (H2 dan H3) dengan rapi
  • Gunakan table of content dan atur posisi peletakannya sebaik mungkin
  • Tambahkan gambar dan video
  • Dan lain sebagainya

Pada intinya, konten manajemen ini lebih fokus pada urusan penyajian konten agar menarik untuk di baca dari awal hingga akhir. Konten manajemen yang baik selain membantu user betah berlama-lama di webite kita, juga akan membantu dalam hal mendapatkan featured snippets (rank 0) seperti pada gambar di bawah ini.

Screenshot 517

Belajar SEO Off-page

SEO Off-page erat kaitannya dengan link building (backlink). Jika Anda belum mengenal apa itu backlink, sederhananya backlink adalah link atau tautan dari satu website ke website lainnya.

Jadi agar ranking sebuah website naik di halaman pertama, website tersebut membutuhkan ‘referensi’ berupa tautan yang mengarah ke website tersebut.

Backlink sendiri bisa di bilang cukup tricky, di satu sisi Google menggunakan backlink sebagai salah satu parameter ranking, di sisi lain Google melarang ‘pembuatan’ backlink.

Bingung kan?

Ya pada dasarnya yang di mau Google adalah sebuah situs mendapatkan backlink dari situs lain, bukan membuat backlink sendiri. Namun pada prakteknya mendapatkan backlink secara cuma-cuma dari website lain itu perlu effort yang lebih. Maka dari itu banyak praktisi SEO yang lebih memilih jalur ‘membuat’ backlink sendiri.

Nah, bagi Anda yang mungkin ingin memilih jalur membuat backlink, saran terbaik yang relatif aman sumbernya berasal dari:

  • Guest Post
  • PBN (Private Blog Network)

Selain hal diatas, ada beberapa hal yang sebaiknya Anda hindarin terkait backlink ini:

  • Backlink menggunakan software
  • Backlink menggunakan artikel copy paste untuk guest post, PBN, dsb
  • Backlink yang diluar kontrol (tidak bisa menghapus)
  • Dan backlink jenis spam lainnya

Beberapa istilah terkait backlink yang tidak akan saya jelaskan namun sebaiknya Anda pelajari adalah:

  • Dofollow
  • Nofollow
  • Anchor Text
  • Outbond Link

Anda bisa mempelajari istilah-istilah di atas serta istilah lainnya dengan berselancar di Google.

Selain backlink, SEO Off-page juga bisa dilakukan melalui media sosial. Engagement dari media sosial bisa membantu dalam menaikkan ranking sebuah website.

Yang menjadi pertanyaan: Bagaimana cara agar sosial signal ini bekerja dengan baik?

Pada dasarnya, social signal tidak memberikan efek secara langsung ke ranking di Google. Dan ini bukan saya aja yang ngomong, Neil Patel juga ngomong begitu.

Lantas kenapa saya ngomong social signal bisa berdampak ke SEO?

Jawabannya adalah karena adanya engagement dari pembaca terhadap artikel yang kita tulis.

Gambarannya kurang lebih seperti ini:

  • Saya punya banyak temen di Facebook yang bergelut di dunia SEO
  • Artikel saya share di Facebook
  • Mereka beramai-ramai membaca artikel yang saya share
  • Konten saya menarik dan membuat mereka membaca hingga selesai
  • Dwell time naik

Kalau kata Backlinko sih, Dwell Time ini masuk ke kategori User Experience Signals.

Jadi social signal ada rentetannya, ada semacam sebab-akibatnya. Hasilnya jelas akan berbeda jika teman Facebook saya tidak tertarik dengan artikel yang saya share.

Rumit dipahami?

Sama, saya juga bingung merangkai kata untuk menjelaskan perihal social signal ini.

Belajar Riset Keyword

Riset keyword atau kata kunci menjadi poin yang sangat krusial dalam SEO. Salah dalam menetukan kata kunci akan membuat effort yang Anda keluarkan dalam mengerjakan on-page & off-page menjadi percuma.

Masuk halaman pertama tapi tidak ada yang mencari keyword tersebut = tidak mendapatkan trafik. Padahal tujuan utama melakukan SEO adalah untuk mendapatkan trafik secara organik.

Beberapa poin penting terkait riset keyword:

  • Search Volume: Semakin tinggi search volume sebuah keyword, maka semakin besar pula potensi trafik yang akan Anda dapat.
  • Tingkat Kompetisi: Anda harus mempertimbangkan dan mengukur kemapuan SEO Anda. Saran terbaik untuk Anda yang masih dalam proses belajar silakan optimasi keyword dengan tingkat persaingan rendah.
  • Keyword Turunan: Keyword turunan dapat meningkatkan potensi trafik yang kita terima dari keyword utama.
  • Search Intent: Analisa intensi dari keyword untuk nantinya digunakan sebagai bahan membuat konten.
  • Keyword Cannibalism: Keyword cannibalism adalah kondisi dimana website Anda memiliki banyak keyword yang sama. Selengkapnya akan saya bahas pada bagian algoritma ‘diversity’.

Lantas, harus menggunakan tools apa untuk melakukan riset keyword?

Ada banyak tools riset keyword yang bisa Anda gunakan, antara lain sebagai berikut:

  1. Google Keyword Planner (harus mendaftar sebagai pengiklan)
  2. Ubersuggest (tersedia versi gratis)
  3. Ahrefs (berbayar)
  4. Semrush (berbayar)

Daftarkan Web ke Search Console

Search console merupakan tools yang dihadirkan khusus oleh Google untuk para webmaster. Fungsi utama tools ini adalah untuk memantau performa SEO website Anda.

Screenshot 519

Secara keseluruhan, search console berguna untuk:

  • Submit sitemap.xml (agar bot Google mudah melakukan crawling)
  • Memantau kinerja website di hasil pencarian
  • Audit kesalahan SEO on-page
  • Audit kualitas backlink yang di dapat
  • Dan banyak hal lainnya

Anda dapat menggunakan tools ini secara gratis dengan cara mendaftarkan website Anda di https://search.google.com/search-console/about.

Kenali Algoritma Google

Memahami algoritma Google dengan baik akan membuat Anda memiliki rambu-rambu ketika ingin menerapkan strategi SEO. Untuk itu poin ini menjadi hal penting untuk Anda catat (jika malas mencatat, silakan bookmark saja artikel ini agar nanti bisa dibaca ulang).

Mari kita lanjut.

Google pada dasarnya selalu melakukan update algoritma setiap saat, konon kabarnya hampir setiap hari. Update algoritma Google sendiri terbagi menjadi 2 tipe: Minor dan Mayor.

Namun disini saya hanya akan membahas mengenai algoritma yang sifatnya core / mayor saja, karena update minor umumnya hanya penambahan kecil dari update mayor.

  1. Panda: Algoritma untuk memberantas website dengan kualitas konten yang buruk (copy paste, auto generate content, dan sejenisnya).
  2. Penguin: Algoritma yang fokus memberantas website yang melakukan spamming backlink.
  3. Hummingbird: Algoritma ini bertugas memfilter hasil pencarian agar sesuai dengan intensi pencarian pengguna.
  4. Mobilegeddon: Algoritma yang membuat situs website dengan fitur responsive (mobile friendly) akan mendapatkan prioritas lebih dari Google.
  5. E-A-T (Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness): Algoritma yang mengharuskan sebuah website di niche tertentu harus di kelola oleh ahlinya. Misalnya situs kesehatan harus dikelola oleh dokter atau instansi kesehatan.
  6. Diversity: Algoritma ini bertujuan memfilter hasil pencarian agar lebih beragam. Beragam dalam artian tidak hanya dikuasai oleh 1 website saja di halaman pertama. Jadi jangan berfikir bahwa Anda bisa meratakan halaman pertama (urutan 1 hingga 10) dengan 1 website yang sama.

Bait terakhir dari saya: Tidak terasa Anda sudah membaca sejauh ini. Sebagai penulis saya menyadari bahwa ada banyak hal terkait SEO yang mungkin terlewatkan untuk saya bahas.

Hal ini dikarenakan sangat mustahil bagi saya untuk membahas semua hal terkait SEO hanya dalam 1 artikel ini saja. Jika sekiranya ada pertanyaan yang ingin Anda sampaikan, jangan ragu untuk menyampaikannya melalui kolom komentar di bawah. InsyaAllah akan saya jawab di waktu senggang saya.

Mau join komunitas Mastah SEO?

Info Selengkapnya


Tulisan Saya Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *